Cara Menolak Pekerjaan: Contoh & Alasan

Menolak pekerjaan akan berakibat fatal bagi karir dan masa depan? Tidak juga. Justru bisa sebaliknya. Menolak pekerjaan dapat menjadi titik awal kamu menapaki karir yang cemerlang. Banyak orang tidak memutuskan menolak pekerjaan sehingga terjebak bertahun-tahun dalam kondisi yang sama.

Pada umumnya, mereka bukan tidak mau menolak, tetapi tidak mampu. Ngerinya, hal ini bisa juga terjadi kepada kita. Mengapa banyak orang tidak mampu? Bukan hanya soal tidak pede, tetapi ini soal kekuasaan yang timpang. Sejujurya, sejumlah besar orang tidak punya posisi tawar yang baik di depan orang lain, apalagi atasan. Jadi, apa boleh buat, mereka tak kuasa menolak tawaran kerja atau pekerjaan.

Bagaimana cara menolak tawaran kerja atau pekerjaan?

Secara teknis, rangkaian kata-kata yang bisa diucapkan bisa dipelajari dimanapun. Kamu bisa berlatih untuk mengucapkannya jika ada waktu atau melakukan simulasi dengan teman-temanmu. Mengatakan ‟maaf, saya sedang ada komitmen dengan pekerjaan lain sehingga tidak bisa mengambil pekerjaan ini” adalah kalimat sederhana.

Namun demikian, contoh kalimat seperti itu tidak selalu tepat untuk semua orang. Tergantung bagaimana bentuk relasi sosial kita dengan orang yang menawarkan pekerjaan. Oleh sebab itu, saya tekankan perlunya memahami siapa yang memberi tawaran kepada kita, dan seberapa ‘intim’ hubungan sosial kita dengannya. Modifikasi kalimat diatas sesuai dengan keintiman relasi sosial kita.

Mengapa menolak tawaran kerja atau pekerjaan?

Sebenarnya, ini adalah pertanyan yang tak kalah penting ketimbang bagaimana caranya. Kita tau bahwa mengangukkan kepala tidak selalu berarti mau. Anggukan bersifat multitafsir. Kenyataannya, banyak diantara orang-orang yang tidak punya kuasa menganggukkan kepala yang sebenarnya mengatakan pada dirinya ‟tidak ada pilihan lain”.

Kita harus mengerti betul mengapa menolak atau menerima pekerjaan. Jika pilihannya menolak, maka penolakan itu bisa kita maknai sebagai penegasan bahwa kita sedang berupaya meningkatkan posisi tawar kita dihadapkan orang lain.

Menolak pekerjaan bisa juga dimaknai sebagai ‘latihan’ bagaimana kita menggunakan kuasa yang sedikit untuk berinteraksi dan menang. Sehingga ketika kita nanti mendapat lebih banyak kuasa, kita tau bagaimana menggunakannya dengan lebih bijak.

Lalu, apa yang perlu dilakukan?

Soal menolak tawaran kerja atau pekerjaan sebenarnya hanya satu sisi koin dari meningkatkan posisi tawar. Untuk menjadi lebih mantap dan berani, kamu tidak hanya menolak tawaran tetapi harus menyatakan apa yang kamu inginkan.

Keduanya, yaitu menolak dan mengatakan apa yang kamu inginkan adalah satu paket tindakan. Ini yang belum banyak dipahami. Mengatakan apa yang kamu inginkan tidak harus dimulai dengan deklarasi yang nantinya malah terkesan arogan.

Banyak orang yang sukses dalam karir memulai dengan bertanya tentang apa yang mereka inginkan, bahkan kepada orang yang punya kuasa lebih seklipun, misalnya atasan mereka, atau orang-orang yang menawarkan lowongan kerja.

Untuk melakukan itu, banyak cara yang bisa dilakukan. Kirimlah pesan dengan sopan suatu pertanyaan tentang apa yang kamu inginkan. Atau, ajak ketemuan jika memungkinkan. Kamu harus tau bagaimana menyampaikan pesan dengan sopan apa yang kamu inginkan dan kamu harus menyampiakannya. Jika menolak tanpa menyampaikan apa yang kita inginkan, posisi tawar kita tidak meningkat.

Apa yang kita inginkan? Bisa bermacam-macam, misalnya kita ingin nasehat, training, waktu untuk belajar, deskripsi kegiatan, dan semacamnya. Minta apa yang kamu inginkan kepada orang lain. Ditolak? Cari orang lain lagi, ditolak lagi cari lagi sampai orang lain menerima. Lihatlah disini momentumnya, kamu juga menjadi orang yang mengajukan tawaran, alih-alih menjadi yang ditodong tawaran. Sekarang kamu punya posisi yang setara dengan mereka yang menawarkan pekerjaan.

Namun demikian, kenyataannya adalah kamu tidak punya kekuaasaan yang besar tetapi ingin mengatakan apa yang kamu inginkan. Maka, sebelum melakukannya dengan sopan, saya sarankan buatlah daftar potensi keuntungan dan kerugiannya. Pastikan, kamu berada di posisi yang nothing to lose, something to gain. Selain itu, bayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Jika kamu tetap survive, lakukan saja.