Cara Membangun Karir Jadi Orang Biasa

Membangun karir bukan perkara mudah bagi yang gagal, tapi juga bukan perkara sulit bagi yang beruntung. Kalo kamu berambisi lebih besar dari kemampuanmu, bisa jadi itu baik bagi karirmu. Tapi ingat, bisa juga berakhir buruk.

Menjadi orang biasa tidak semudah yang dibayangkan. Jika kamu ingin menjadi orang biasa, bersiaplah menghadapi kesulitan-kesulitan. Banyak alasan untuk hal ini. Saya bahkan mengalaminya setiap hari ketika sedang berjuang menentukan karir.

Apa saja alasannya?

Pertama, sangat sedikit sekali dukungan literatur untuk mereka yang serius membangun karir sebagai orang biasa. Kebanyakan buku-buku motivasi karir menginginkan kamu untuk menjadi luar biasa. Lihatlah bagaimana untuk luar biasa saja kamu harus dibombardir oleh opini orang lain, alih-alih diberikan ruang kebebasan untuk memilih.

Memangnya ada orang yang nggak pingin sukses? Pertanyaan ini sungguh bias. Seolah-olah sukses itu luar biasa. Menjadi biasa-biasa saja juga boleh dong dikatakan sukses. Bahkan menjadi biasa di luar dibilang sukses juga boleh.

Milenials harus jeli melihat bagaimana suatu karir didefinisikan dengan label baik dan buruk, sukses atau gagal. Kita harus fair di awal bahwa semua karir itu baik, atau setidaknya bermanfaat bagi orang lain. Di sini, kita tidak perlu berdebat bahwa menjadi pencuri itu bukan karir yang baik.

Baca Juga Cara Menentukan Karir

Oleh karena karir itu kebaikan, maka membangun karir adalah membangun dalam rangka kebaikan. Goodness istilahnya, adalah makna dalam berkarir. Dengan begini, apa salahnya berkarir menjadi orang biasa? Tidak ada sama sekali sebagaimana berkarir menjadi orang luar biasa.

Selain minimnya dukungan literatur, alasan lainnya adalah stigma sosial. Kita tidak perlu menyangkal hal ini. Tanyalah pada anak muda tentang orang yang pergi pagi pulang sore dan hidupnya biasa-biasa saja. Mereka tidak bisa menemukan apa hebatnya orang yang biasa-biasa saja. Mengapa demikian? Karena kita tidak didik untuk menyadari apa yang nyata. Kita distigma bahwa biasa-biasa saja adalah kegagalan. Kita perlu membongkar stigma dan kembali apa yang sebenarnya, apa yang nyata.

Bagaimana menyadari apa yang nyata?

Tips untuk milenials yang sedang membangun karir baik berkarir jadi orang bisa ataupun jadi luar biasa, adalah menyadari yang nyata. Jadilah yang nyata, eksis, ada dan benar-benar ada. Sekilas, menjadi orang biasa tampak seperti bertentangan dengan menjadi sukses. Tidak demikian kalo kita sudah sadar adanya bias dan stigma.

Menjadi orang biasa adalah menjadi nyata ketika membangun karir, tanpa terlalu menjual kesan palsu tentang diri kamu, apalagi di depan atasan. Kalau kamu adalah seorang yang baik, punya impian, suka menunda dan sering ragu, deskripsikan dirimu seperti itu. Jadilah apa adanya.

Jika kamu bukan seorang superstar, jangan berjalan seperti di karpet merah dimana semua orang menaruh perhatian padamu dengan takjub. Jika kamu bukan panglima tempur, tidak perlu berdiri di garis depan memimpin stategi perang dengan slogan ‘kita merdeka atau mati’. Jika kamu bukan siapa-siapa, terimalah kenyataan bahwa kamu bukan siapa-siapa. Hanya dengan begitu, suatu keadaan alamiah akan tumbuh dalam dirimu. Suatu keaslian dan otentisitas menjadi karakter dirimu.

Satu hal yang paling penting daalam membangun karir adalah otentisitas. Menjadi otentik adalah suatu kejujuran. Kejujuran, di situlah titik mulainya dan di situ pulalah titik berakhirnya. Kejujuran adalah makna yang hilang dalam diri banyak orang dalam proses membangun karir. Kalo kamu sudah kerja, berapa banyak kolegamu di tempat kerja yang di dalam dirinya terpancar kejujuran?

Baca Juga Perlukah Kuliah Untuk Membangun Karir Sukses?

Apalagi sekarang ini, era milenial yang identik dengan citra diri online yang tampilkan terus-menerus. Atensi adalah sumber motivasi dibalik ambisi. Setiap orang seperti mengejar perhatian, walaupun dengan sedikit polesan. Polesan itu bisa kosmetik kepalsuan.

Seperti apa contohnya membangun karir dengan kepalsuan? Dengarkanlah cerita dibalik politik kantor. Contohnya membangun karir dengan kejujuran? Dengarkanlah cerita dari orang biasa yang hidupnya biasa-biasa saja. Contoh tidak membangun karir? Dengarkanlah cerita dari orang yang biasa di luar, di poskampling misalnya. Jadilah otentik dalam membangun karir, biasa saja jangan di luar.