Perlukah Kuliah Untuk Membangun Karir Sukses?

Membangun karir sukses adalah salah satu episode krusial dalam hidup. Pencapaiannya bisa jadi monumental, bisa juga mengecewakan. Sebenarnya bukan karena kesuksesan atau kegagalan, namun waktu yang diinvestasikan untuk mencapai suatu profesi atau pekerjaan. Waktu yang dihabiskan untuk membangun karir tidak bisa kembali. Itu taruhannya.

Pertanyaannya kini adalah apakah kuliah harus menjadi bagian dari strategi membangun karir sukses? Bagaimana dengan kenyataan bahwa beberapa orang yang berhasil dalam karir dan menjadi orang hebat justru meninggalkan kuliahnya untuk fokus meniti karir? Lalu milenials berpikir, masih perlukah kuliah untuk membangun karir?

Membangun karir sukses dengan atau tanpa kuliah

Sebenarnya bukan kuliah atau tidak yang menjadi penting dalam proses membangun karir. Namun alasan-alasan di balik itu. Kuliah dan gelar yang diperoleh bisa menjadi ilusi jika dalam diri tidak tercermin apa yang telah ditempa selama proses kuliah.

Kemampuan yang melekat dalam diri itu yang nyata dan penting. Kita bisa membayangkan suatu hal yang umum seperti skill, karakter dan pengetahuan. Disitu cerminan nyatanya berada. Kuliah hanyalah aktivitas yang bisa diganti dengan aktivitas belajar lainnya.

Baca Juga Cara Menentukan Karir

Oleh karena itu, saya menyarankan milenials untuk fokus pada alasan-alasan mengapa kuliah, dalam rangka menjawab pertanyaan apakah perlu kuliah untuk membangun karir sukses. Berikut ini beberapa alasan kuliah yang saya temukan terefleksi pada diri banyak orang.

Jika kamu menemukan salah satu alasan kuliah kamu dalam daftar di bawah ini, sebaiknya jangan menjadikan kuliah sebagai strategi dalam membangun karir sukses.

Kuliah untuk membatu menentukan mau kerja apa nanti

Ini sebuah blunder awal mengapa orang memutuskan kuliah. Dikiranya, kuliah adalah persiapan untuk menentukan kerja apa nantinya. Tidak, kuliah didesain untuk melatih skill dan memupuk pengetahuan individu dalam rangka ditempatkan di suatu pekerjaan yang sudah ditentukan.

Jadi, masuk kuliah itu seperti masuk koridor yang diujungnya sudah ada ruangan yang dituju lewat koridor itu. Selama berjalan dalam koridor, kamu ditunjukkan informasi yang nantinya digunakan di dalam ruangan itu. Itu logika ideal yang harus dipahami. Tanpa mengetahui logika idelnya, wajar jika setelah lulus kuliah banyak yang belum menemukan minat karir sehingga tetap tidak tau mau kerja apa.

Kuliah untuk menunda cari kerja

Ini kekeliruan yang populer juga. Banyak orang setelah lulus sekolah pingin kuliah karena tidak mau cari kerja. Enakan kuliah katanya. Bebas, temannya banyak dan keren. Tidak sampai disitu, banyak yang kuliah tingkat S2 karena nggak mau cari kerja. Gimana lagi, sudah cari kerja tapi sulit, ya sudah kuliah.

Baca Juga Cara Membangun Karir Jadi Orang Biasa

Milenials, pahamilah bahwa tidak ada gunanya menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk menunda. Apalagi kuliahnya bayar sendiri. Jika kuliah dilakukan dalam rangkan menunda karena malas, kecewa, susah cari kerja, maka suka tidak suka akan datang masa dimana waktu tidak lagi berpihak padamu.

Kuliah untuk mengesankan keluarga dan teman-teman

Tidak perlu ditutup-tutupi, banyak yang bangga karena diterima di perguruan tinggi idaman. Pencapaian itu memberi sensasi kenikmatan yang diperoleh dari perhatian orang lain. Teman-teman akan takjub. Keluarga ikut senang dan bersyukur. Tapi kamu yang menjalani tidak perlu menjadikannya itu tujuan kuliah.

Tidak ada faedahnya daftar dan diterima kuliah hanya untuk membangun kesan. Motivasi kuliah seperti ini justru berpotensi menutup kejernihan berpikir untuk membangun karir sukses. Membangun karir tidak ada hubungannya dengan kesan dan ucapan selamat yang kamu terima. Pada akhirnya kuliah tidak untuk membuat dirimu terlihat mengesankan.

Berbagai alasan kuliah di atas sebaiknya dikubur dalam-dalam. Jika kamu masih menyimpan alasan-alasan itu, maka sebaiknya tidak perlu kuliah untuk membangun karir sukses. Fokus membangun karir tanpa sia-sia menghabiskan waktu bertahun-tahun itu jauh lebih baik.